Waktu Itu Misterius

Tak ada seorang pun yang bisa memprediksi tentang berapa besar kerugian akan manusia akibat melalaikan waktu. Hanya Allah yang mengetahuinya secara mutlak, oleh sebab itu Allah pula yang mengingat manusia bahwa ia akan gagal jika menyia-nyiakan waktu. Allah mengingatkan kita sekaligus memberi tahukan orang-orang yang akan beruntung (lawan kurugian) bagi orang yang memnfaatkan waktu:

 

Beriman kepada Allah

 

Telah tercerahkan pengetahuan kita bahwa syaitan itu adalah musuh  yang nyata bagi kita. Sehingga Rasullullah SAW berpesan agar orang beriman senantiasa memperbaharui imannya. Ini adalah mutlak diperlukan, agar manusia tidak terjebak dalam kelalaian waktu. Karena saat itu pula syaitan akan mencari celah untuk menggodai manusia. Justru dari itu kita diperintahkan untuk senantiasa membasahi lidah dengan zikir kepada Allah SWT, zikir tentunya sangat ringan dilafaz, namun berat timbangannya di akhirat kelak.

 

Beramal shalih

 

Selanjutnya, melakukan amal shalih sebanyak-banyaknya dalam setiap ada kesempatan. Mungkin tak asing lagi di telinga kita kalimat “kesempatan tak terulang kedua kalinya”. Begitulah waktu ini, ia misterius tak tak pernah menunggu kita, begitu juga dengan kesempatan-kesempatan yang kita jumpai dalam kehidupan ini, yang terkadang kesempatan penting itu dilewati begitu saja, padahal kesempatan itu tak akan terulang kedua kalinya, kendaki ada, namun dalam konteks yang berbeda. Dalam hal ini, kita harus merujuk kepada sosok Nabi Muhammad SAW, dimana hari-harinya selalu dipenuhi dengan, zikir, istighfar, tasbih, tahlil dan lain sebagainya. Selain itu juga beliau melibatkan diri dalam kegiatan sosial dan politik kenegaraan, untuk merangkul umatnya ke jalan yang lurus. Sehingga kita mengenal istilah, meskipun hatinya tidur, tetapi hatinya tetap jaga (tidak tidur).

 

Berpesan (menyampaikan) kebenaran

 

“Katakaan kebenaran meskipun pahit”, pesan Rasulullah itu sering terabaikan. Realitas menceritakan  kepada kita hanya segelintir orang yang menyampaikan pesan itu terkait ada hal-hal yang disembunyikan (untuk kepentingan pribadinya atau kelompok). Dia tak menghirau berapa banyak orang yang terancam (tersakiti) oleh dirinya.

 

Terkadang, ada juga orang yang tak mengetahui kebenaran tetapi berpura-pura mengetahuinya, ada pula yang mencampuri kebenaran dengan kesalahan. Disini terkesan, ada manusia yang sudah lengser dari garis yang dikendaki Allah SWT. Begitu juga, bila kita kaitkan dengan salah satu tugas pemimpin daerah kita (guberbur di tngkat provinsi), seyogyanyalah menyampaikan kebenaran untuk kepentingan rakyatnya, begitu juga dengan rakyatnya, sampaikanlah kebenaran kepada pemimpinnya, agar dia mengetahui kebenaran dibalik imajinasi (angan-angan) dia yang kadang hanya duduk di atas bangku tanpa merakyat untuk melihat kenyataan dibalik hipotesa dia.

 

Berpesan (menyampaikan) kesabaran.

 

“bersabarlah” kalimat yang mudah dilontarkan seseorang untuk menggairahkan semangat si musibah. dan sepatutnya bagi si musibah untuk bersyukur karena masih ada yang mengingatinya hal itu. Tidak sedikit orang yang menjadi kufur karena tak bersabar. Sehingga tak berlebihan bila seorang filosof berkata “pendidikan yang sulit adalah mendidik kesabaran”.

 

Sejenak kita melihat nabi-nabi terdahulu, dari sekian nabi diutus oleh Allah SWT untuk menyampaikan risalah-Nya, namun hanya 5 (lima) orang yang dijuluki Ulul ‘Azmi (orang-orang yang memiliki keteguhan pendirian).

 

Dewasa ini, terkadang kesabaran dianggap sebagai tindakan pasif (menerima apa adanya), dalam istilah bahasa Jawa disebut “nrimo wae”. Pemahaman yang keliru, artinya kesabaran yang diinginkan menurut al-Qur’an adalah kesabaran yang dinamis dan aktif. Kerab di masyarakat Arab, sabar itu identik dengan syaja’ah (keberanian). Orang yang ingin berpergian kesuatu tempat, kemudian dipertengahan perjalanannya ia kembali, maka ia dianggap pengecut (tidak jantan) dan tidak sabar (jaza’). Sabar disini maksudnya pantang mundur, dan menyerah sebelum cita-citanya kesampaian.

 

Sama halnya dengan pelajar. Pelajar yang sabar, ia akan sungguh-sungguh dalam menekuni ilmunya untuk mencapai cita-citanya pantang menyerah sebelum tercapai cita-citanya. Kesebaran memang pahit rasanya, namun manis hasilnya, sejalur dengan firman Allah SWT, dalam surah al-Insyarah ayat 5-6, “sesungguhnya di balik kesulitan itu ada kemudahan”. Wallahu a’lam…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *