Waktu itu Mesterius

Mari sejenak kita meluangkan waktu untuk merenungi apa yang telah termaktub dalam al-Qur’an surah al-‘Ashr, di sana telah disajikan tentang pentingnya waktu dan manfaatkannya dalam kehidupan yang fana ini. Mengutip terjemahan surah al-‘Ashr yang diindahkan dengan nazham (bersajak) Aceh mengenai makna surat al-‘Ashr di bawah ini:

 

“(1) Demi watee dilee ngoen dudoe (2) Insan dum rugoe hanaban peugah (3) Melaenkan ureung nyang na meuiman Lom amai goep nyan pih goet sileupah.”

 

“Geubrie nasehat bak buet nyang beuna; Suroh rabbana beek roeh tekeubah; Geubrie nasehat beu le that saba; Bala nyan teuka teunang ngoen tabah.”

 

Sajak atau nazham dalam bahasa Aceh di atas, kiranya dapat membangkitka gairah jiwa bila dibaca, khususnya bagi masyarakat Aceh, karena mengetahui akan makna yang tersirat didalamnya. Seakan  ingin segera memanfaatkan waktu sebaik-baik mungkin, entah itu dalam hal zikir (mengingat) kepada Allah, beramal shalih dan menyampaikan kebenaran, dan kesabaran (saling mengingatkan) sesama manusia, dimana pun ia berada. Iya, titik perhatian di sini adalah memanfaatkan waktu.

 

Keberadaan waktu sebagai fenomena alam ciptaan Allah dan Allah menggunakan ciptaan-Nya tersebut sebagai pengungkapan sumpah untuk manusia. Jika, kita mengajukan suatu pertanyaa, kenapa demikian??? Hal ini, berarti menunjukkan bahwa waktu bukanlah suatu kesia-siaan, bahkan dia memegang posisi penting dalam kehidupan. Tidak ada seorang pun yang mampu menghalau waktu ini untuk memperlambatnya atau pun mempercepatnya. Sehingga, kerab terasa bagi kita dimana waktu berlalu begitu cepat dan telah melumpuhkan akan berbagai cita-cita dan angan-angan manusia itu sendiri.

Itulah kenapa waktu terkesan misterius. Kiranya ini bukanlah penafsiran buta, dimana ungkapan Arab saja mengibaratkan waktu itu bah ibarat pedang”, ada juga yang mengibaratkannya dengan uang, yang selalu dibutuhkan oleh setiap orang. Kehilangan waktu sama halnya dengan kehilangan uang, namun waktu itu tidaklah bisa bibeli dengan uang. Namun, mempergunakan waktu itu akan bisa menghasilkan uang. Namun, saya lebih senang mendengar waktu itu ibarat pedang dibandingkan dengan uang yang berbentuk material. Ketika ia diibaratkan pedang, tentu kehati-hatian menjadi sikap yang tidak dapat dijualbelikan karena ia menyangkat persoalan mati dan hidup seseorang.

 

Tidak sedikit juga dari manusia juga yang berangan-angan, “andaikan aku bisa mengulang waktu, aku ingin memperbaiki kesalahan-kesalahan di masa lalu, supaya saat ini aku bisa berada di posisi dan menjabati suatu kursi di sana, itu misalnya dan lain sebagainya”. Namun, kondisi tersebut bah ibarat “nasi sudah jadi kerak”. Pertanyaan sekarang mau kita apakan kerak tersebut?. Tidak ada kata-kata terlambat. Bangkitkan gairah jiwa kita, bersihkan hati kita dengan zikir (mengingat) Allah SWT, beramal shalih, menyampaikan kebenaran dan meningkatkan kesabaran. Separti nasi yang sudah menjadi kerak, kerak masih bisa kita goreng dan dibumbui dengan garam, kiranya lumayan lezat rasanya. Namun, tidak jika diibaratkan nasi sudah jadi taik ayam. 🙂

 

to be continued…

Tinggalkan Balasan