Tentang Diriku

Aku datang memberimu makna yang berbeda-beda. Bagi seseorang aku mendatangkan kesuburan dan kemakmuran. Bagi orang yang lain saat kehadiranku mereka akan kembali memutar lempengan kehidupan yang pernah mereka lalui. Bagi dua orang kekasih kedatanganku akan membawa suasana romantis dan menghangatkan hubungan indah mereka. Sedangkan bagi anak-anak aku adalah yang paling dinanti kerana bersamaku mereka dapat bermain dan bersenang-senang. Aku memoles wajah bumi yang kering, menghapus kegersangan dan aku mengubah suasana hatimu, aku dirindukan untuk datang disaat kemarau panjang ketika kehidupan tidak seindah yang dibanyangkan. Aku menghadirkan tentang kenanganmu, tentang keindahan bahkan tentang derita dan luka yang pernah engkau rasa pada suatu masa. Banyak orang yang menyampaikan kesedihan dan suara hati mereka lewat diriku dan mewakili perasaannya lewat tetesanku.

 

Bagi para perindu mereka selalu mengharapkan aku selalu datang karena dalam pandangan mereka hanya aku yang mau memahami setiap tetesan air mata mereka. Bersamaku mereka bisa menangis sekeras-kerasnya, untuk mengadu dan menumpahkan semua air mata yang tersisa untuk menyampaikan perasaan dan kegetiran. Aku adalah tempat pelarian yang paling indah dan aman, tempat paling mudah untuk menyembunyikan perasaan yang meremukkan jiwa. Agak aneh memang, selalu saja ada orang yang terlena dan tak berdaya disaat kedatanganku, pada rintik dan aromaku, pada bunyiku dan caraku yang pelan sekaligus brutal dan memberimu setiap kenangan yang mungkin kamu rindukan atau tak pernah kamu inginkan, mungkin inilah yang membuat sebagian orang membenci kehadiranku.

 

Aku adalah gelembung-gelembung udara yang jumlahnya tak terhitung terbentuk dari pembuih di lautan, kemudian pecah dengan tiada henti dan membuat partikel-partikel air terpencit menuju langit. Partikel ini yang di dalamnya terdapat banyak garam, diangkut oleh angin dan bergerak menuju atmosfir. Partikel ini dikenal dengan sebutan nama lain aerosol, ia membentuk awan dan mengumpulkan uap air yang ada di sekitarnya yang datang dari laut sebagai titik-titik kecil dengan mekanisme yang dikenal dengan perangkap air. Dan Tuhanku menyebutnya “Dialah yang mengirimkan angin,…”.

 

Awan-awan  terbentuk dari sekitar butiran garam atau partikel debu di udara. Karena dalam hal ini aku sangatlah kecil. Awan-awan itu berlengantungan di udara dan terbentang di langit. Dan awan menguasai dan menyelimuti tubuh langit. “…lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkanya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal,…”. Dan partikel-partikel air yang melingkari butiran garam dan partikel debut itu mengental dan membentuk diriku. Dan tentunya aku lebih berat dari udara, bertolak dari awan dan mulai jatuh menuju wajah bumi. “…lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya…” Tersimpul dari kita suci.

Inilah aku, bukan hanyak para ilmuan yang mempelajari lalu memberi pendapat tentang diriku. Bahkan Tuhan dengan amat jelas dan terperinci menjelaskan tentang diriku dalam Firman-Nya yang terhimpun kemudian kita kenal dengan Kitab Suci. Aku datang sesuai dengan kadar yang telah ditetapkan tentunya oleh Tuhanku, jumlahku tidak pernah lebih dan tidak pernah kurang ketika suatu tempat membutuhkanku. Aku selalu terukur untuk dirimu serta kebutuhanmu, untuk  tumbuhan dan tanamanmu dan juga untuk bintang peliharaan yang kamu rawat atau yang hidup di alam liar yang bebas. Dan aku juga datang untuk mengubah keadaaan, perasaan dan suasana hatimu dengan kadat dan ukuran tertentu.

 

Seorang seniman pernah melukiskan tentang diriku dalam untaian dan jalinan kata, menurutnya tidak ada yang lebih menarik dari pada mengamatiku, melihat dan merasakan kehadiranku. Karena diriku ia selalu jatuh hati dimana pada saat yang sama rasa cinta, benci, rindu, sedih, senang menyeruak dari dalam dadanya. Ia menjadi rindu pada rasa sayang dan senyuman ibu, pada kebesaran kasih dan rindu dari sang ayah. Pada ketulusan kasih kasih seorang abang. Pada kelucuan dan wajah imut adeknya yang kembar. Rindu suara, bola mata, pipi putih selemut sutera adik perempuannya yang masih balita. Pada anak-anak kecil yang tulus mendoakan selesai sholat insya. Pada cahaya rembulan yang menjaganya sepanjang malam, pada keheningan dan kesunyian malam. Pada daun-daun yang jatuh berguguran menghentak bumi lalu berhenti di akar batang. Rindu pada rumah kayu berdaun pintu bambu yang lengah dan sepi serta anak-anak angsa bermain di halaman. Aku juga membuat dirinya rindu pada orang-orang yang bangun di kala fajar untuk menghadap Tuhan. Pada sahabat yang setiap mendengarkan dan pada setiap puing kehidupan, roda waktu serta setiap bingkisan dari Tuhan. Semesta selalu menantiku, mungkin untuk menguntai makna kehidupan. Membangun di tengah lamunan, berjalan dan berlari di tengah panas dan dinginnya alam. Aku selalu mampu mengungkap rasa dan menarik makna, mereka selalu terpesona olehku. Ah…mungkin aku terlalu berlebihan.

Tinggalkan Balasan