Selimut Kabut

edited-pixabay
Perempuan tua itu  berdiri di dekat jendela. Temaram lampu kamar, membingkai bayangannya seperti setengah memanjang. Sesaat, aku hanya menangkap nuansa kesedihan di wajahnya. Wajah yang menyiratkan selaksa kepucatan yang membentang seperti iring-iringan awan melingkupi langit. Dia lebih banyak diam, mendengarkan dengan syahdu suara orang-orang di seberang. Aku, tahu kini ia sendiri menjalani sisa hidupnya.

 

Didalam rumah tua yang berdindingkan kayu beralaskan papan, perempuan itu tinggal. Kesehariannya diisi dengan berkerja di kebun kopinya sendiri, kebun yang di pernah digarap berdua dengan almarhum suaminya. Kadang di akhir bulan perempuan itu mendapatkan kiriman tambahan dari anak-anaknya di kota, meskipun ia tidak membutuhkannya, penghasilannya di kebun kopi yang diusahakannya sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhannya.

 

Ia adalah Nenek Syam Seorang perempuan tua yang memiliki sepuluh orang anak, tapi ia hidup sendiri. Anak-anaknya meninggalkannya satu persatu. Walaupun semua anaknya pernah mengajak dirinya juga untuk tinggal bersama mereka dikota. Seperti bulan yang lalu seorang anaknya mengajak ibunya tinggal bersama dengan dirinya. Tetapi beberapa minggu kemudian, kami melihat dia sudah berada kembali dirumahnya sekarang. Kembali pulang

Di dalam kebekuan angin kini Nenek Syam menjalani sisa hidupnya. Hari-harinya di isi dengan keberja di kebun kopinya, memanam cabai, singkong, jangung, kacang bunci, kacang panjang dan beberapa jenis sayuran lainnya, disamping merawat pohon-pohon kopi yang tidak jauh berbeda dengan usianya kini.

 

Nenek Syam beranjak dari tempat duduknya menuju jendela dengan tangannya yang sudah rapu dimakan usia dan kerja keras, dengan sisa tenaga yang dimiliknya ia menutup daun jendela agar angin sore yang membeku tidak masuk kerumahnya. Tanpa ada angin yang masuk saja rumahnya ia sudah sangat kedinginan, diselimuti oleh bekunya udara dingin pengunungan Takengon.

 

Dia dan suaminya dulu dikenal sebagai orang yang sangat terpandang di dalam masyarakat, memiliki perkebunan kopi yang luas serta banyak anak. Ia dan suaminya mempunyai pandangan yang sama soal pendidikan bagi anak-anak mereka. Ia dan suami bertekat menyekolahkan semua anak-anaknya hingga kejenjang yang tinggi. Mereka tidak mau anak-anak mereka tidak mendapatkan pendidikan yang baik, bagi mereka pendidikan anak adalah nomor satu, mereka tidak ingin anak-anaknya bernasib sama dengan mereka, menjadi petani. Lewat pendidikan ia dan suami menaruh harapan yang besar terhadap semua anaknya.

 

“Semoga mereka menjadi anak-anak yang sholeh dan cerdas”. Katanya pada suami. “Semoga mereka menjadi anak-anak yang berbakti kepada orang tuanya, ya pak. Selalu berada di sekeliling kita, menjadi pelindung dan orang-orang yang akan merawat kita ketika  tua nanti ” lanjutnya penuh harap.
Kebun yang luas, kemudian terjual sepetak demi sepetak untuk keperluan dan kebutuhan biaya pendidikan anak-anaknya. Hingga yang tersisa hanya sepetak kebun di samping rumahnya, yang  menjadi tempat ia menyambung hidup kini.

 

Semua perjuangan ia dan suaminya tidak sia-sia, semua anak-anaknya menjadi orang-orang berpendidikan tinggi serta mendapat pekerjaan yang hebat dengan kedudukan yang  tinggi. Awalnya ia sangat bahagian dan bangga dengan semua kesuksesan anak-anaknya. Ia dan suaminya dianggap oleh orang kampungnya sebagai orang  tua yang sukses dalam mendidik dan menyekolahkan anak-anak mereka.

 

Pada saat di ajak oleh anak-anaknya untuk tinggal dengan mereka, ia sangat bahagia bisa tinggal dengan anak, menantu dan cucunya. Ia membanyangkan semua anak-anaknya akan selalu bersamanya, seperti mereka kecil dulu saat mereka masih berada dalam pengawasaanya. Menjaga mereka, berbicara, becanda, tertawa dan menangis bersama-sama. Tidak ada yang lebih bahagia bagi ia selain berkumpul dengan anak-anaknya.

 

Namun, impian tidak seindah kenyataan, yang ia alami jauh dari yang pernah dibanyangkan sebelumnya. Ia meresa ada yang hilang dari anak-anaknya, dengan pendidikan dan jabatan yang  tinggi kini semua anak-anaknya telah menceburkan diri kedalam pekerjaan yang tidak kenal waktu. Sehingga ia sebagai orang tua mulai terabaikan. Pekerjaan yang tidak kenal waktu telah membuat dia dan semua anak-anaknya semakin jauh terpisah. Semua anaknya sibuk dengan mengejar kariel begitu juga dengan menantunya, sedangkan cucunya lebih banyak berada di sekolah dan kegiatan privatnya. Sampai mereka tidak punya waktu untuk hanya sekedar duduk dan berbicara dengannya. Dia merasa kesunyian, sendiri lebih seperti penjaga rumah saja. Hingga kebosanan menyeruak tak tertahankan, ia akhirnya meminta pulang kepada anaknya.

 

Seperti biasa setiap berkunjung kerumah anak-anaknya, ia akan pulang sendirian. Karena pekerjaan mereka tidak  dapat mengantar ia pulang, mereka hanya membekalinya dengan uang untuk ongkos perjalanan. Berbeda dari apa  yang  pernah ia lakukan ketika mereka masih dalam pengawasannya, sesibuk apapun dirinya selalu punya waktu untuk mengantar dan menemani kemanapun anak-anaknya ingin pergi. Dengan hati yang sedih penuh kecewa, ia pulang kerumah yang pernah dibangun bersama suaminya dulu. Lebih baik di sana walaupun sendiri, tetapi di rumah kita sendiri, katanya di dalam hati.

 

Langkah kakinya yang lemah membawanya ke dapur rumahnya, kesedihan Nenek Syam kembali menyeruak. Dulu tempat itu menjadi tempat yang penuh keceriaan yang melahirkan kebahagian. Suami dan anak-anaknya mengganggu dirinya sedang memasak, anak-anaknya yang berebut mengambil pisang yang baru di gorengnya. Tempat yang penuh canda dan tawa bagi keluarga besarnya, sambil mencicipi singkong rebus. Kini dapur itu menjadi kosong dan sepi, tinggallah Nenek Syam seorang diri.

 

Saat bulan puasa, anak-anaknya duduk mengelilinginya saat dirinya membuat kueh, tangan-tangan nakal mereka yang ingin mengambil kueh yang telah matang untuk disembumbunyikan, untuk mereka berbuka nanti. Suara mereka yang riang bertakbir saat malam Hari Raya. Berebut cium dan salam dengan dirinya di pagi setelah sholat Idil Fitri. Kini suara mereka hanya bisa dia dengar lewat telepon dari kejauhan, itupun hanya ucapan selamat lebaran, sebelum kata yang membuat hatinya remuk dan hancur, “Maaf bu, kami enggak bisa pulang lebaran ini karena pekerjaan yang menumpuk”.

 

Didalam kesunyian dan kebekuan angin malam. Nenek Syam mencoba merebahkan tubuh tuanya. Semua impian dan harapan kepada anak-anaknya, telah ia buang dan tinggalkan seiring berlalunya senja dan malam menyapa. Bahkan keinginannya yang terakhir sekalipun. Ia dapat menarik napasnya untuk terakhir kali, dalam pangkuan anak-anaknya telah Ia lupakan. Nenek Syam menyelimuti tubuh tuanya yang terasa keras seperti kayu. Bersamaan dengan itu, mendadak kabut turun, seolah pengunungan Takengon pun hendak menyelimuti muka gundulnya dengan selimut kabut bersama Nenek Syam. Yang semakin tua, ditinggalkan dan dilupakan oleh para generasinya, tanpa pernah menyadari betapa pentingnya mereka bagi dunia.

Tinggalkan Balasan