Perhatian terhadap Hukuman Fisik #Last Edition

Dua postingan saya sebelumnya tentang Perhatian terhadap Hukuman Fisik adalah gambaran dari perspektif melihat hukuman fisik itu sendiri, terutama dalam sudut pandang Islam. Lebih lanjut, mari kita masuk lebih dalam dan membuat kesimpulan kecil nantinya.

Iya, pada kenyataannya kita akan sepakat ketika tujuan dari suatu hukuman itu harus memberikan makna, pertama, kiranya hukuman untuk memberikan perlindungan, ilustrasinya adalah sebuah penjara tidak akan dibuat kecuali untuk menjaga orang yang berada di luar penjara. Kedua, hukuman itu untuk sebuah larangan. Iya, tat kala seorang hakim memutuskan seseorang untuk dipenjarakan, maka bukan karena seseorang mencuri seekor kambing misalnya, tapi untuk melarangnya agar tidak mencuri yang kedua kalinya, dan poin penting adalah untuk mencegah orang lain menirunya atau melakukan hal yang sama.

 

Ketiga, hukuman itu memang untuk pembalasan dari tingkahlaku  negatif yang dilakukan oleh seorang anak. Namun, dalam penerapannya tidak terlepas dari  aturan agama, adat, serta kembali kepandaian guru dalam memilih dan memilah hukuman yang cocok bagi mereka anak-anak. Sewajarnya pendidik janganlah menghakimi tanpa mengadili, jangan terburu-buru sehingga salah kaprah, namun cobalah melakukan beberapa tahapan dengan cara mengajajukan beberapa pertanyaan misalnya:

 

***Apakah siswa atau seorang anak benar-benar telah melanggar suatu aturan atau dia melakukannya namun dengan tidak sengaja?

 

***Apakah siswa atau anak tersebut mengetahui akibat yang ditanggung setelah melakukan kesalahan tersebut dan karena hal tersebut, apa yang akan dialaminya dan dirasakannya dari melanggara aturan tersebut? Dan lain sebagainya.

 

 

Terakhir (keempat) adalah hukuman untuk perbaikan, terkadang seorang anak sadar dengan diberi hukuman badan, ada juga ynag tidak sadar kecuali dengan diberi hukuman adab, ada juga yang cukup dengan diberi petunjuk (ceramah), ada juga akan merasa sakit apabila dipukul dengan besi, ada juga dari mereka yang merasa sangat senang dipukul dengan besi, ada juga yang memang merasa sangat sedih (sadar) dengan diskor satu hari dari sekolahnya, dan ada juga yang sangat senang bila diskor dari sekolahnya karena ia akan libur, serta hilang hukuman baginya.  Peserta didik terkadang meninggalkan rasa sakit pada dirinya apabila di jatuhkan derajat perangainya dan itu juga bisa tidak, walaupun dijatukan sepuluh kali derejatnya. Oleh sebab itu, terasa wajiblah bagi pendidik untuk mengetahui adanya perbedaan-perbedaan yang sangat mendasar pada diri anak didik. Dengan demikian, pendidik akan mengetahui kecocokan hukuman untuk seorang siswa yang melakukan kesalahan dan menjadikan hukuman untuk perbaikan anak didik tersbut.

 

Dari kesemuaan penjelasan di atas, penulis rasa mengenai pertanyaan Pantaskah hukuman fisik dalam dunia pendidikan? di atas telah tercerahkan dan memilki jawaban tersendiri bagi pembaca. Pentingnya disini bagi para pendidik hendaknya tidaklah terburu-buru dalam menangani setiap tingkah anak diluar norma-norma, sebelum mengenali mereka satu perstau secara mendalam dan mimilih hukuman yang pantas bagi mereka, serta bersama mengajak anak didiknya untuk memperbaikinya. Semoga ini menjadi bahan renungan yang bisa menerangi setiap langkah dalam menghukumi anak kita. Amiien ya Rabb. Wallahu ‘alam

Tinggalkan Balasan