Pang Peng Pong

Istilah tiga serangkai, dan seakan menjadi kembar siam yang tak dapat dipisahkan, apabila satu pihak dipisahkan, maka resiko akan diterima di lain pihak. Meskipun kita tak bisa menebak di antara para fulan bin fulan, namun seakan itu terlihat nyata ketika kita mencoba mendengar teriakan-teriakan rakyat yang ingin menyicipi rasa keadilan, kedamaian, dan lain sebagainya dari para utusan yang telah mereka percayai untuk memimpin daerah atau sebuah instansi. Kita tidak ingin membuat list-list para pejabat di negeri ini, terutama di nanggroe syariat. Karena list nama tetaplah menjadi list nama yang hanya menjadi data jika tidak diambil pelajaran penting di sana. Bahkan, pejabat di institusi nir-laba (seperti lembaga pendidikan) juga melakukannya. Padahal, ini adalah aura busuk yang dipertontonkan oleh suatu generasi, dimana instansi pendidikan merupakan sebuah lembaga nirlaba (tidak mengharap laba) yang harus dihuni oleh orang-orang yang berjiwa sosial tinggi untuk memajukan peradaban manusia, baik di ranah ekonomi, pembangunan, kesejahteraan, dan sebagainya di masa mendatang.

Memang tidak bisa dipungkiri, pangkat, harta, dan instansi (Aceh: pangpeng, dan pong), merupakan realitas dari incaran peradaban manusia, karena manusia memilki hawa nafsu untuk hidup bahagia dalam kehidupan dunia, selanjutnya di akhirat kelak. Namun, timbul pertanyaan, apakah pangkat, harta, dan instansi akan menjamin kehidupan yang disilimuti kebahagiaan dunia dan akhirat? Tentu itu barang ralatif dan kembali lagi kepada manusia  itu sendiri yang memanfaatkan pangpeng, dan pong itu sendiri untuk kemaslahatan siapa? Bersifat individual (pribadi) atau universal (merakyat (ummat)).
Kehadiran kami disini bukan mencoba menyalahkan dan memilah siapa yang benar dan yang salah. Namun, sebagai manusia, kita dituntut untuk menyampaikan yang baik dan saling mengingatkan. Saling mengingat merupakan jurus untuk meminimalisir (mengurangi) kemaksiatan untuk melabuhi kehidupan ini. Perlu kita ingat, kehidupan dunia ini yang bersifat baharu (sementara), kemudian penuh dengan cobaan dan perlawanan. Dan, siapakah lawan kita? Jawabannya adalah  “syaitan”. Banyak telah termaktub dalam al-Qur’an menjelaskan, syaitan adalah ‘aduwummubî (musuh yang nyata) bagi kita manusia. Kapan syaitan datang melawan kita? Pastinya kulla sa’ah (setiap waktu), sehingga Rasulullah dalam tafsiran surat al-‘Ashr (demi masa), berpesan agar orang beriman senantiasa memperbaharui imannya. Ini adalah mutlak diperlukan, agar manusia tidak terjebak dalam kelalaian waktu. Karena saat itu pula syaitan akan mencari celah untuk menggodai manusia. Justru dari itu kita diperintahkan untuk senantiasa membasahi lidah dengan zikir kepada Allah SWT. Zikir tentunya sangat ringan dilafaz, namun berat timbangannya di akhirat kelak.

Potret pang, peng dan pong

Menyoe hana peng griek, panee na peng ribee” kalau tidak ada uang koin (puluhan/ratusan), mana mungkin bisa terkumpul uang ribuan. Potret sekarang, ketika seorang telah berada di atas, sering yang di bawah diabaikan, bahkan ia lupa akan janji-janji yang pernah ia lafazkan baik terhadap sesama manusia atau dengan sang khlaiq. Begitulah sifat manusia, karena manusia diciptakan dalam keadaan suka mengeluh (gelisah) “Innal insâna khuliqa hulû’an“ QS. Al-Ma’arij: 19). Ketika keadaan gelisah mendatangi, saat itu manusia berkeluh kesah dengan sang khaliq, tetapi tatkala senang, mereka lupa dengan perintah dan larangan Allah.
Pangkat-jabatan yang ditenteng manusia, memang berkat kegigihannya sendiri dalam menggapainya. Jadi seakan wajar saja kalau orang tersebut bersikap tak mau open terhadap yang lain. Namun, wajarkah ketika pangkat atau jabatan seorang, menjadi malapetaka bagi manusia yang lain. Ketika pangkat salah dipergunakan dengan menghalalkan segala cara hanya untuk mendapatkan peng (uang) atau kesenangan dirinya sendiri. Maka, tunggulah saat mainnya (kecelakaan pangkat) akan menimpanya.pang peng pong

Berdasarkan hasil Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) melansirkan data provinsi terkorup di Indonesia, menyatakan Aceh adalah Provinsi nomor urutan ke-2 terkorupsi dari 33 provinsi lainnya (tribunnews.com 1-Oktober-2012 dan data ini perlu diupdate). Ini adalah kecelakaan pangkat atau jabatan. Aceh yang dijuluki Seramoe Makkah (Serambi Mekah), seakan sudah mulai luntur, entah karena catnya yang tak tahan lama, entah karena tingkah manusia itu sendiri.
Tidakkah terganggu pendengaran atau penglihatan para pangpeng, dan pong ketika mendengar atau melihat realitas di masyarakatnya yang menuntun kearah lebih baik. Jangan menyumpal telinga dan menutup mata (mata hati). Pangkat, harta, dan instansi yang sekarang dilakoni tidaklah bersifat awet. Setidaknya mencoba mensurve langsung ke lapangan akan apa sebenarnya yang terjadi dan apa yang sebenarnya dibetuhkan oleh rakyat.
Hendaknya yang memilki pangkat atau jabatan disebuah instansi (lembaga) mentranformatif suatu keadaan, yaitu mencoba melihat realitas, kemudian memahami, dan mengubahnya kepada situasi yang lebih baik untuk meredamkan teriakan-teriakan tadi. Bukan dengan cara positivistik, yang hanya mencoba memahami masyarakat dengan duduk di kursi instansi (tidak langsung ke lapangan), kemudian mengubahnya berdasarkan pengalaman pribadi tentang apa yang diinginkan oleh rakyat. Perlu distabilo, pengalaman seseorang tentunya berbeda-beda, jadi tak sewajarnya menghakimi suatu kaum berdasarkan pengalaman sendiri.
Sama sekali kita tidak mengidamkan, seorang pemimpin kita terlahir dengan jiwa KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme). Lebih-lebih jika ia bergerak di bidang pendidikan. Pendidikan yang sewajarnya memanusiakan manusia dengan sewajarnya, menjadi mengenyangkan manusia-manusia tertentu dengan tidak sewajarnya. Ini merupakan sebuah dilema (kecelakaan jabatan), yang secepatnya dicarikan alternatif solusinya. Kebijakan yang dicampuri dengan politik yang bersifat proyek (material), maka, lambat-laun akan menjadi bumberang bagi generasi kita sendiri.

Tinggalkan Balasan