Nyanyian Angin

Aku duduk di atas kursi kayu tua, sebelumnya debu di atasnya ku tiup dan ku sapu. Sambil menunggu waktu ku coba membuka sebuah buku yan terbaring di atas meja tua yang sama terbuat dari kayu. Buku tebal dan tua itu menunggu ku untuk  kuba dan ku baca. Ku buka dengan lebut dan penuh hati-hati, ku baca setiap pesan yang tertulis di dalamnya paragraf demi paragraf dan halaman demi halaman. Semakin aku membacanya semakin kuat pula ia menarikku kedalamnya. Hingga aku sampailah pada sebuah kesimpulan. Tapi aku yakin engkau pasti penasaran tentang apa yang kubaca dan pesan apa yang disampikan buka tua itu kepada ku. Biklah, jika memang engkau ingin tahu apa yang ada di dalam buku tua dan tebal itu, simak dan dengarkan apa yang akan ku sampaikan kepada mu. Bukan kah ilmu itu harus dibagi agar sang ilmu lebih berkat dan bermartabat. Kita tidak perlu berdebat tentang hal itu, karena ku yakin engkau dan aku pasti setuju. Baiklah sekarang dengarkan baik-baik apa yang akan kubagikan kepadamu.

 

“Usia manusia menurut para pakar astrologi mencapai seratus dua puluh tahun, jika dilihat dari peredaran bulan dan bintang. Usia sebagian orang berbeda-beda ada yang berusia lima puluh tahun, enam puluh tahun atau delapan puluh tahun. Jarang ada yang mencapai usia seratus dua puluh tahun, sesuai dengan kondisi dan situasi yang melingkupinya. Adapun usia kita berkisar antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun sesuai dengan Hadis. Adapun usia pemerintahan atau kerajaan, meskipun berbeda-beda dalam kondisi dan situasai yang melingkupinya. Usianya tidak lebih dari empat generasi, empat puluh tahun adalah waktu untuk satu generasi hal ini sesuai dengan ukuran usia orang secara normal. Dengan demikian usia empat puluh tahun dimana pada usia tersebut pertumbuhan manusia telah mencapai puncak.

Seirama dengan itu, usia suatu pemerintahan atau kerajaan hanya mencapai empat generasi. Ibarat dalam satu keluarga, generasi pertama adalah sang ayah, generasi kedua adalah anak, generasi ketiga adalah cucu dan generasi keempat adalah anak dari cucu, hanya sampai kepada mereka saja masa pemerintahan atau kerajaan. Kemudian runtuh atau bepindah kepada kelompok lain.

 

Generasi pertama adalah generasi yang masih menjalani kehidupan dengan keras, pemberani dan kompak. Dimana hasil kebesaran dan kenikmatan yang diproleh masih dinikmati bersama dan kekompakan dalam suku masih terjaga dengan baik. Dengan dinamikan demikian mereka masih sangat kuat, masih disegani oleh para lawan dan rakyatpun masih tunduk dan patuh. Mereka adalah orang-orang yang disebut primitif atau liar. Mereka memiliki mata percaharian dibidang pertanian dan memeliharan binatang. Membatasi hidup menurut kebutuhan baik dari segi pakaian, tempat tinggal, makanan dan seluruh ihwal kehidupan. Membangun tenda-tenda, rumah-rumah dari kayu tanpa ada ukiran dan hiasan. Tujuan mereka hanya untuk tempat berlindung, tidak lebih dari itu. Mereka mencari lubang-lubang dan gua untuk tempat tinggal.  Adapun makanan yang dikonsumsi dengan cara yang sederhana, diolah terlebih dahulu atau tanpa di olah kecuali yang harus dimasak dengan panas api. Mereka tidak pernah melampaui lebih dari itu, tidak mencari kebutuhan hidup enak dan mewah. Karena kebutuhan hidup terbatas sifatnya mendasar dan kehidupan mewah sifatnya sekunder, maka basis orang-orang primitif lebih tua dengan 0rang-0rang kota atau menetap. Manusia pada dasarnya akan berusaha mencari kebutuhan yang mendasar, setelah ia kebutuhan itu diperoleh, barulah mencari kebutuhan hidup enak dan mewah. Kekerasan dan pahidnya hidup ketika mengembara di pedalaman mendahului kelembutan hidup ketika menetap.

Meskipun mereka juga berurusan dengan duniawi, namun tetap berada dalam batas-batas, dibandingkan dengan orang kota mereka lebih dekat kepada fitrah atau asalnya, mereka jauh dari sifat mencari hidup enak dan kemewahan, sehingga orang-orang primitif lebih mudah di obati atau disebuhkan untuk menjadi orang baik dari pada orang kota yang terbiasa dengan hidup enak dan mewah. Mereka sangat suka terlibat dengan urusan duniawi yang penuh dengan kenikmatan, melakukan bermacam-macam kejahatan dan nafsu syahwat yang sulit terkendal, tidak peduli terhadap para pemberi pesan kebajikan kepada mereka. Orang-orang primitif hidup mengasingkan diri dari masyarakat, mereka hidup liar tidak pernah mendapatkan pengawasan tentara. Karena itu, mereka sendiri yang menjaga diri mereka, tidak pernah meninta bantuan kepada orang lain. Mereka senantiasa membawa senjata dan mawas diri terhadap segala keadaan dan lingkungan. Cepat tidur kecuali sedang berkumpul dengan kelompok mereka. Selalu mawas dengan suara dan gerakan burung. Mereka hidup memencil di tengah pedalaman ditemani oleh ketenguhan jiwa dan kepercayaan kepada diri mereka sendiri. Ketenguhan jiwa telah menjadi sifat mereka dan keberanian telah menjadi tabiat mereka. Mereka menggunakan keteguhan jiwa dan keberanian itu apabila mendengar panggilan atau harus lari karena mendengar teriakan. Karena itu maka orang-orang primintif lebih berani dibandingkan dengan orang kota, oleh karenanya orang-orang primitif atau liar lebih mudah dan berhasil dalam mengusai dan membangun kedudukan, kehormatan serta kekayaan.
By: rangkang-sekolah

Tinggalkan Balasan