Nyanyian Angin – Last Edition

Dear sahabat steemians

 

Semoga anda telah membaca postingan sebelumnya tentang Nyanyian Angin. Karena postingan ini adalah sebagai lanjutannya.

Lalu datanglah generasi kedua yang telah mengalami perubahan kondisi dalam mengelola kekuasaan dan kekayaan, dari keadaan primitif menjadi berperadaban, dari kehidupan yang keras menjadi lembut dalam kemakmuran dan kemewahan serta kebersamaan dalam menikmati kebesaran menjadi individual, sehingga membuat yang lain menjadi bermalas-malasan untuk mengapainya. Kehormatan untuk memperluas kekuasaan menjadi berdiam diri dan bermalas-malasan. Kondisi ini memperlemah kekuatan kesukuan yang pernah dimiliki, mereka menjadi lebih lemah dan mudah ditundukan. Mereka memang masih mempunyai beberapa karakter karena mereka ikut melihat gerasi pertama, berupa kehormatan dan perjuangan mereka dalam meraih kebesaran dan mencapai tujuan, juga dalam upaya membela dan mempertahankan diri. Mereka tidak dapat melepaskan semua itu secara total, meskipun sebagian besar pendorong kebesaran mereka telah hilang. Tetapi hanya bisa berharap untuk menikmati kejayaan yang pernah diperoleh oleh gerasi pertama, atau hanya menganggap kebesaran dan kejayaan telah ada dalam diri mereka.

 

Adapun generasi ketiga, dimana mereka telah melupakan semua masa-masa primitif dan liar dari generasi yang pertama, bahkan semua itu dianggap tidak pernah ada. Mereka telah kehilangan kebanggaan pada kehormatan dari suku yang pernah dimilik sebelumnya, misalnya naluri untuk mengusai dan mengalahkan. Mereka berada diambang batas kemewahan dan kesenagan hidup yang mereka nikmati dengan berbagai cara. Gaya hidup ini membuat mereka menjadi beban pemerintahan, mereka seperti perempuan dan anak-anak yang membutuhkan perlindungan. Kebesaran kesukuan merekapun hilang secara menyeluruh. Melupakan perlindungan, pertahanan, pembelaan diri, dan ekspansi kekuasaan. Mereka hidup tenggelam dalam kenikmatan dan kemewahan, mereka mempercayakan keamaan kepada para tentara untuk melindungi mereka, hidup dalam tembok-tembok yang mengelilinginya. Tidak ada suara teriakan yang mengganggu mereka dan buruan yang menyita waktu mereka. Kebiasaan itu terus berlanjut secara turun termurun, mereka tak ubah anak-anak yang berada dalam pengawasan kepala rumah tangga.

 

Generasi ini lebih suka menggelabui masyarakat dengan pakaian berpangkat dan seragam yang dikenakan, menunggang kuda dan wawasan yang luas serta hidup dalam segala bentuk kenikmatan dan kemewahan. Umumnya orang dari generasi ini lebih penakut dari pada seorang perempuan yang mandiri. Ketika kerajaan membutuhkan bantuan mereka tidak mampu memenuhinya, juga tidak punya kekuatan untuk membela dan mempertahankan diri dari serangan. Sehingga membuat pemerintah atau kerjaaan harus meminta bantuan pada pihak luar.

Segala kenikmatan dan kemewahan hidup, membutuhkan biasa besar, hingga pengeluaran jauh lebih besar dari pamasukan yang diterima. Mereka menyuruh rakyat untuk berhemat padahal mereka sendiri tidak mampu melakukannya. Kemudian rakyat dihukum dengan pajak-pajak yang semakin tinggi. Dalam kondisi ini yang fakir akan bisana sedangkan yang kaya akan semakin kaya. Rakyat menjadi malas dan lemah untuk membangun, disamping kebencian mereka terhadap para pengelola atau pemengang kekuasaan semakin menguat. Seiring dengan itu kerajaan semakin lemah bersamaan dengan semakin lemahnya rakyat.

 

Karena itu, kehancuran kerajaan secara menyeluruh terjadi pada generasi yang keempat. Pada generasi ini mengalami penurunan kualitas dan kekurangan dalam berbagai segi dan bahkan kehilangan kebaikan karakter yang mampu menjadi dan melestarikan kekokohan bangunan kebesaran mereka. Dengan demikan bangunan kebesaran mereka akan lemah dan hancur. Menganggap bangunan tersebut bukanlah dari hasil kerja keras, melainkan bersifat natural sejak berdirinya karena garis keturunan. Mereka juga beranggapan bangun tersebut mampu berdiri bukan karena hasil kerja keras suatu kelompok dan bukan pula karena karakter seseorang yang memiliki kehormatan di tengah-tengah masyarakat. Mereka tidak mengetahui bagaimana cara dan motif bangunan kebesaran itu bisa berdiri. Menilai semua itu hanya kerena keturunan semata. Sehingga semakin menjauh dari kelompok yang memiliki kesukuan kuat, mereka menyakini bahwa mereka lebih hebat dan terhormat karena pengetahuan dan wawasan yang mereka miliki. Meminta rakyat untuk patuh kepada perintahnya. Di sampin itu mereka juga memberikan peluang kepada kelompok lain yang lebih condong dan royal kepada dirinya, miskipun kelompok tersebut berada diluar kelompoknya yang asli, mereka tidak pernah memikirkan dampak dari semua tindakan itu”.

 

Untuk saat sekarang hanya itu yang dapat kusampaikan kepadu mu dari buku tua yang ku baca dengan sepenuh jiwa. Dengan pelan ku tutup buku, seiring dengan itu batinku bergejolak dan perasaan ku menyeruak. Di atas kursi kayu aku duduk paku dengan buku tua di hadapanku menatapku dengan bisu. Di dalam ruang sempit berdindingkan kayu aku mencoba menghubungkan apa yang ada di dalam buku tua dengan apa yang ada di luarnya, tetapi berada di dalam bangsaku kini. Aku melihat gambaran bangsaku dimana si kaya semakin kaya dan si miskin hanya kematian yang dapat mencabut kemiskinan darinya. Maksiat menjadi sesuatu yang lumrah, kebejatan sebagai makanan siang, pertikaian, pembuhunan, penipuan dan masih telah banyak jika harus ku sebutkan satu persatu, sebab aku takut jika aku sebutkan semua kebejatan itu engkau pasti mengatakan kepadaku : Bangsamu itu pasti dihuni oleh para bedebah.

 

Moral dan karakter tolong jangan tanyakan itu, karena kami sendiri tidak tahu kemana itu telah pergi meninggalkan kami atau memang segaja kami tinggalkan. Di dalam keadaan setegah putus asa aku mulai bertanya sesungguhnya bangsaku sekarang dari empat generasi yang di sampaikan oleh Abd Ar-Rahman Abu Zayd Muhammad Ibnu Khaldun dalam bukunya “Muqaddimah” baru saja ku baca dan sebagian isinya kusampaikan kepadamu. Bangsaku dengan kondisi yang demikian untuk saat sekarang berada pada generasi yang keberapa ?. Aku sangat berharap engkau dapat menemukan jawabannya dan dengan senang hati aku setiap menunggu jawabanmu.
By: @rangkang-sekolah

Tinggalkan Balasan