menjadikan pekerjaan sebaga ibadah

Menjadikan Pekerjaan sebagai Ibadah

Islam adalah agama yang mengajarkan produktivitas. Bagaimana kita  menjadi manusia yang aktif, produktif dan bermanfaat? Islam sangat menganjurkan bekerja dan beraktivitas, bahkan Islam sangat membenci kemalasan. Islam mengajarkan kepada kita bagaimana dalam bekerja dan beraktivitas tetap dalam rangka ibadah kepada Allah Swt, karena ibadah adalah tujuan dari penciptaan manusia sebagaimana firman Allah Swt dalam QS. Adz-Dzariyat: 56:

“Dan tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadku”.

Timbul pertanyaa. Jika kita hanya sibuk dengan ibadah, kapan kita bekerja untuk memenuhi kebutuhan, menafkahi keluarga dan kewajiban-kewajiban lainnya? Maka, di sinilah Islam membimbing kita, bahwa ibadah dapat bermakna khusus dan dapat pula bermakna umum.

Ibadah dalam arti khusus adalah kita benar-benar menjalankan ritual ibadah seperti shalat, zakat, puasa, haji dan sebagainya. Sedangkan, ibadah dalam arti lebih umum adalah segala aktivitas yang kita lakukan, yang tidak bertentangan dengan apa yang menjadi larangan Allah Swt, dan kita niatkan diri kita untuk mendekatkan diri kepada-Nya, maka semua itu insya Allah akan bernilai ibadah di sisi Allah Swt.

Nabi Muhammad Saw, menyebutkan bahwa orang yang keluar bekerja mencari nafkah untuk keluarga dan menjaga kehormatan dirinya dikategorikan oleh Allah sebagai orang yang berjihad dan dia bernilai ibadah.

Menjadikan Pekerjaan sebagai Ibadah

Dari Ka’ab beliau berkata, bahwa suatu hari lewat dekat nabi seorang laki-laki, para sahabat melihat dan kagum dengan badannya serta semangatnya, lalu mereka berkata, wahai Rasul Allahu seandainya orang ini berjihad di jalan Allah, maka Rasulullah Saw, bersabda: “Jika ia keluar untuk nafkah anak-anaknya maka, ia berjalan di jalan Allah. Jika ia keluar untuk nafkah kedua orang tuanya yang sudah renta, maka ia berada di jalan Allah. Jika ia keluar untuk nafkah dirinya agar tidak mengulurkan tangannya untuk meminta maka ia berada di jalan Allah. Adapun, jika ia keluar dengan tujuan riya dan kesombongannya, maka ia berada di jalan setan.

Maka, dalam hal ini Islam memandang bekerja sebagai jihad. Bermakna, bahwa ia adalah suatu ibadah yang memiliki keutamaan di sisi Allah Swt.

Lalu pertanyaanya, bagaimana kita mampu menjadikan pekerjaan ini sebagai ibadah di sisi Allah Swt? Agar pekerjaan kita bernilai ibadah di sisi Allah, sehingga kita dicatat sebagai hamba yang mewujudkan makna penghambaan sebagaimana tujuan penciptaan jin dan manusia.

Melanjutkan postingan sebelumnya, beberapa hal yang perlu kita perhatikan untuk menjadikan pekerjaan kita sebagai ibadah, yaitu:

Niat. Iya, niat adalah pondasi penting dan amat sangat diperintahkan pada setiap pekerjaan untuk berniat mencari keridhaan Allah Swt, sehingga pekerjaan yang kita kerkakan kiranya akan bernilai ibadah. Bahkan, dengan niat dapat menjadikan pekerjaan rutinitas yang kita lakukan seperti, makam, tidur, dan sebagainya dapat bernilai ibadah. Serta sebaliknya, niat dapat pula menjadikan ibadah menjadi maksiat karena niat kita riya dan sum’ah misalnya.

Memperhatikan larangan-larangan Allah, sehingga tidak terjatuh ke dalamnya. Ada beberapa perkara yang dilarang bagi kita dalam bekerja, seperti berbohong, berdusta, menyogok, dan lain sebagainya. Jadi, larangan-larangan tersebut harus menjadi rambu-rambu dalam dunia kita bekerja.

Qana’ah terhadap pembagian Allah. Qanaah adalah sikap menerima dengan lapang dada akan segala bentuk rezki yang diberikan oleh Allah Swt kepada kita. Dengan qanaah tersebutlah kemudian akan menjadikan kita menjadi hamba yang tenang, tidak selalu gelisah, karena terus merasa kurang segala apa yang ada dalam hidup. Maka, beruntunglah, kata Nabi Muhammad Saw, orang-orang yang memiliki sifat qana’ah.

Nabi Muhammad Saw, “Telah beruntung orang yang ber-Islam dan diberi rezeki yang cukup dan qanaah terhadap yang dibagikan kepadanya”.

Perkara penting yang perlu diperhatikan lainnya dalam persoalan menjadikan pekerjaan sebagai ibadah adalah:

Bersyukur;Tentu saja bersyukur adalah perintah Allah Swt kepada hamba-hamba-Nya, dan dengan bersyukur akan setiap nikmat yang Allah berikan menyebabkan nikmat-nikmat yang telah dianugerahkan menjadi bertambah.

Berdo’a dan tawakaal sepenuhnya kepada zat yang Maha di atas segalanya, Membersihkan dan mensucikan harta dengan zakat, wakaf, infaq, sedekah dan amalan-amalan baik lainnya;

Iya, semoga segala bentuk pekerjaan kita yang tidak menjadi larangan dalam ajaran Agama kita dapat menjadi ibadah, karena ibadah kedudukannya dalam ajaran adalah salah satu unsur penting selain aqidah dan mu’amalah. Dengan demikian, ruang ibadah tidaklah menjadi sempit dalam pemahaman kita, seperti ibadah dalam artian khusus yaitu shalat, zakat, puasa dan dan sebagainya. Namun, menjadi buruh dalam suatu bidang pekerjaan yang halal pun dapat bernilai ibadah. Semoga bermanfaat, `Wallahu a’lam`…

 

Tinggalkan Balasan