MATEMATIKA DIRI

Dear sahabat steemians

Semoga selalu dalam keadaan sehat !!!

Dalam keheningan dan kebisuan, aku duduk dipaling sudut ruangan. Bukan di dalam rumah atau gedung, tetapi tubuh dan pikiranku berada di sudut dari ruangan salah satu Masjid. Aku tidak akan menceritakan kepadamu tentang orang-orang yang berada disampingku. Aku tidak akan mengunjing sikap dan sifat orang-orang yang berada di rumah Tuhan. Aku hanya akan bercerita tentang apa yang kudengar dan kurasakan sendiri.

 

Sungguh aku sangat menyesal menjadi manusia, kadang aku berpikir mengapa Tuhan tidak menciptakan aku menjadi binatang yang  lain saja. Secara biologis, manusia dengan binatang yang lain juga sama seperti makan, tumbuh besar, mewarisi keturunan lalu mati. Tetapi sebagai manusia, Tuhan menempatkan hati dan akal kedalam diriku, dimana dengan kedua hal ini aku diwajibkan untuk mempertanggungjawabkan semua perkataan dan perbuatan yang pernah kulakukan  dunia  di hadapanNya kelak.

 

Dia akan memanggilku untuk menjelaskan apa yang telah kulakukan selama aku hidup. Di depanNya, di pengadilanNya. Dimana mulutku terkunci tidak bisa lagi berbicara, tetapi tangan-tanganku yang akan berbicara kemudian kaki-kakiku yang akan memberikan kesaksian pembenaran tentang apa yang akan dikatakan oleh kedua tanganku. Begitulah gambaranku ketika Tuhan memanggilku untuk mempertanggungjawabkan semua hal yang pernah aku lakukan didunia. Dalam hatiku berbisik mengapa mengapa Tuhan membungkam mulutku dan memilih tanganku yang berbicara dan kakiku untuk bersaksi atas semua tindakan yang  pernahku perbuat di dunia?.

 

Aku menemukan jawaban dari pertanyaan yang tumbuh dari kegelisahan hatiku dalam sebuah ceramah yang disampaikan oleh seorang ulama besar pada saat memberikan ceramah hari jum’at di sebuah mesjid di Aceh. Sebaiknya nama ulama dan mesjid, aku sembunyikan untuk satu dan lain hal. Kaki menuntunku kesana ke mesjid yang sudah lama tidak pernah kukunjungi. Sang ulama besar itu mengatakan.

 

“Secara makna bahasa bukan sekedar alat bicara, tetapi juga alat pandang kita terhadap segala hal. Karena itulah cara kita berbicara menunjukan bagaimana kita memandang Tuhan, alam semesta dan juga orang lain. Bahasa adalah gugus perspektif tentang kehidupan di dunia dan di akhirat pula. Itulah yang menyebabkan apa yang keluar dari mulut orang yang berilmu sangat berbeda dengan apa yang keluar dari mulut orang yang tidak berilmu”.

 

“Karena mulut adalah pintu gerbang dalam kehidupan, siapa yang bisa menjaga mulutnya maka ia bisa selamat begitu juga sebaliknya. Seperti kata pepatah banyak ikan yang mati karena mulutnya. Maka, disini menjadi benarlah kecurigaan Tuhan, bahwa Tuhan dengan segaja menutup pintu mulut kita dihadapanNya, karena Tuhan sudah tidak membutuhkan lagi kemampuan dan keahlian mulut dalam berestorika. Masa itu adalah sama pertangungjawaban atas perbuatan dan keputusan kita selama hidup didunia. Mungkin, jika mulut masih diberikan kesempatan untuk berbicara, jangan-jangan Tuhan pun mungkin akan kita debat tentang batas-batas pahala dan dosa”.

 

Aku duduk dengan kakiku terlipat dan kedua tanganku berada di atas kedua lututku, selama aku hidup di dunia, ada sebuah masa yang tidak tak berujung, dan mungkin ketika aku mati nanti aku akan hidup dalam masa yang tak terbatas, sungguh yang terpikirkan olehku. Akankah aku dapat menemukan kebahagiaan diantara dua kehidupan ini.

Edisi Cerita Pendek Matematika diri

Semoga bermanfaat:

By: Rangkang Sekolah 

Satu tanggapan untuk “MATEMATIKA DIRI

Tinggalkan Balasan