MATEMATIKA DIRI – Last Edition

Salam Sahabat Steemians

Semoga anda telah membaca postingan sebelumnya Matematika Diri

edited-unsplash

 

“Tangan kita adalah takdir kita begitulah pepatah berkata. Kita sebagai manusia tentu dapat merancang dan menyusun perenanaan untuk menuju masa depan” Tambah sang ulama.

 

“Dengan kata lain manusia dapat menentukan dan menciptakan sejarah hidupnya sendiri. Tentu semuanya itu hanya dapat dilakukan oleh kedua tangan kita. Manusia dengan kedua tangannya dapat membentuk dirinya seperti yang diinginkannya. Inilah yang menjadi salah satu alasan Tuhan dibalik jutaan alasan yang lain yang tidak pernah kita tahu, dimana Tuhan menjadikan tangan sebagai pembicara, tentang apa yang kita lakukan semasa hidup di pengadilanNya nanti”.

 

“Kemudian kaki, seperti yang telah diketahui oleh banyak orang. Kaki adalah simbol dari melangkah, bergerakan atau jiarah.  Bergerak dari satu titik ke titik yang lain, jadi siapa yang punya kaki namun dirinya tidak melakukan jiarah tentu dirinya adalah orang-orang yang rugi.  Simbol kaki melangkah juga menunjukan dorongan kuat dari Tuhan, disini Tuhan memberikan petunjuk dengan ciptaannya, bahwa dengan kaki kita dituntuk untuk terus bergerak menuju kehidupan yang lebih baik dan harmonis. Jika kita tidak melakukan ini kita adalah manuisa yang terlihat hidup tetapi sesungguhnya dirinya telah mati, karena tidak ada pergerakan didalam dirinya. Agama kita mengatakan selalu ada level yang lebih tinggi dari derajat manusia, yang semua manusia dituntut untuk terus mendaki hingga sampai ketahap itu sebelum kematian menjemput. Dengan kaki Tuhan memberikan kita dorongan untuk terus melangkah kedepan dimana setiap langkah  itu harus selalu menghasilkan kebaikan”.

 

“Maka, di sini menjadi logis mengapa Tuhan menginginkan kaki kita untuk bersaksi dan membernarkan apa yan dikatakan oleh tangan kita dihadapannya nanti. Karena kaki dapat melihat apa yang dilakukan tangan kapanpun dan dimanapun, selama kita hidup didunia. Tangan tidak mungkin bisa melakukan sesuatu apapun apabila tidak ada kaki yang mengantarkannya kesana”. Sambung Sang Ulama diatas mimbar, dengan satu tangannya memengang tongkat.

 

Hatiku tiba-tiba tersentak, seperti ada yang menghantamnya. Aku mulai berpikir dan bertanya kepada diriku sendiri. Jika aku mati sekarang sungguh aku tidak dapat membayangkan apa yang dapat kusodorkan dihadapan Tuhan, dari semua hal yang pernah kulakukan didunia ini. Kematian tidaklah penting, sebab kita semua pasti akan mati. Tetapi kehidupan sebelum kematian itu yang lebih penting.  Aku membayangkan bagaimana dengan sholat-sholatku selama ini yang kudirikan. Timbul keraguan didalam diriku tetang ibadah itu. Bagaimana kau bsa membanggakan sholatku dan mengaku ahli ibadah sedangkah sholatku masih acak-acakan, kadang Aku mendirikannya kadang aku membiarkanya tentang terbaring.
Ketika aku malakukan sholat dengan segala bacaan dan pergerakakannya, tetapi hati dan pikiranku tidak berada disana didalam bacaaan dan pergerakan seperti yang dicntohkan Nabi kita. Tapi pikiranku, masih melayang-layang kepada harta, tahta dan wanita atau sebagainya, yang katanya bisa membuat dirimu dihargai dan dihormati didunia.

 

Mulutku membaca doa sholat dan tubuhku bergerak mengkuti pergerakan sholat, disini ku akui bahwa aku seutuhnya berada disana. Namun, tidak dengan pikiran dan hatiku. Bagaimana sholatku bisa kubanggakan dan berani kusodorkan di hadapan Tuhan, jika ketika aku sholat aku tidak pernah bisa menghadirikan DiriNya didalam setiap doa dan sholatku.

 

Lalu bagaimana dengan bicaraku selama ini, kusadari aku tidak pantas dikatakan orang yang jujur, kadang ada kalanya demi kepetinganku, aku dengan begitu mudahnya berbohong, bahkan kutambah dengan raut wajah yang sedih dan bahasa tubuh untuk menyakinkan korbanku. Janji yang pernah kuucapkan dengan bahasa yang manis, saking banyaknya, sehingga aku sendiri lupa yang mana telah aku tepati. Atau yang telah terkubur oleh waktu dan mungkin sengaja ku lupakan.

 

Setelah ulama turun dari mimbar dan iqomat di kumandangkan, para jamaah mulai berdiri berbaris, bersiap untuk shalat. Imam mulai membaca takbiratul, didalam keheningan dan kedamaian, aku menyimak dengan sepenuh hati setiap barisan ayat surat “Al-Fatihah” yang di baca oleh Imam, tanpa kudasari aku mulai menangis.

Tinggalkan Balasan