Jasa Pahlawan sebagai Wawasan Kebangsaan

Dear sahabat steemians

Wawasan kebangsaan atau kita sederhanakan dengan istilah nasionalisme, tidaklah identik dengan anti-internasionalisme. Atau dengan wawasan kebangsaan akan setiapa kedaerahan kita akan mengkhawatirkan lahirnya primordial (angapan kelompok yang benar terhadap ke lompok lain) yang anti akan nasionalisme. Justru wawasan ini akan mempertegas posisi tawar dan identitas sebuah daerah dalam interaksi antar-daerah.  Tanpa itu, campur tangan budaya luar dengan mudahnya menggeser otentitas suatu komunal yang disebut dengan daerah atau bangsa.

 

Derasnya arus medornisasi atau globalisasi, akan menimbulkan gaya hidup ala kebarat-baratan. Kenyataan tersebut, tidak bisa dipungkuri ketika dihadapkan pada kehidupan saat ini, mulai dari ala fashion (pakaian) yang banyak andil bicara gestur (bahasa tubuh), memperlihatkan warna kulit, atau bentuk tubuh mereka dengan mengingkari aturan-aturan agama atau kedaerahan tertentu. Begitu juga ala interaksi social yang acuh tak acuh (pesimis) dengan social kehidupan kerabatnya.

 

Kagalauan tersebut merupakan ancaman yang lambat-laun akan menelan nilai-nilai cintah akan tanah air atau kedaerahan, dan jika penyakit ini tidak secepatnya ditangani akan melahirkan malapetaka bagi bangsa atau daerah itu sendiri. Mereka akan berjiwa lemah atau acuh tak acuh (pesimis) dibandingkan dengan rasa cinta kepada bangsa atau daerahnya sendiri.

 

Pada tataran pendidikan bagian penting di sana adalah kurikulum, kita tidak ingin menawarkan penambahan mata pelajaran yang secara eksplisit (kusus) tentang pendidikan berwawasan kebangsaan. Kita khawatir pernyataan tentang penambahan mata pelajaran bukanlah sebuah solusi yang ampuh, malainkan menambahkan bobot dan beban bagi peserta didik itu sendiri, yang berefek dengan psikologi peserta didik.

 

Tawaran dalam permasalahan ini, mencoba mengambil proposisi dalam mata pelajaran, seperti PAI (Pendidikan Agama Islam), SKI, PKn. Jadi, bukanlah meteri melainkan nilai yang ingin ditanamkan. Maka, di sebuah lembaga pendidikan bukanlah memberikan materi Pancasila, UUD 1945 dan lainnya juga, melainkan penanaman nilai-nilai cinta tanah air, kerjasama, kesatuan persatuan, dan lain sebagainya.

 

Seperti materi SKI (Sejarah Kebudayaan Islam), tidak saja dibahas tentang perjalanan Rasulullah s.a.w, sahabat, tabi’in, dan tabi’ at-tabi’in, melainkan dapat dikaitkan dengan sejarah kasus Indonesia. Misalnya, perjuangan tokoh muslim, ulama, dan pemimpin nasional yang dikaitkan dengan konteks masa kini. Kita tidak ingin maneafikan akan adanya di satuan pendidikan yang mengajarkan kesejarahan demikian, namun tidak mengkontekskan dengan masa kita, sehingga peserta didiknya hanya terlampiaskan dengan semangat kebangsaan yang menyejarah, atau bangga dengan sejarah masa silam, tapi kita khawatirk terpuruk di masa akan datang.

 

Semoga dengan hadirnya setiap moment peringatan pahlawan, menjadikan kita lebih bersemangat dengan mangambil nilai-nilai perjuangan di masa lalu, dan kita terapkan di masa sekarang. Kokohnya politik terdahulu tidak luput dari semangat para tokoh revolusioner yang mengukuhkan nilai-nilai kesatuan dan persatuan mulai dari visi dan misi, dan jauh dari prasangka buruk sesamanya. Wallahu a’lam

 

By: Rangkang Sekolah

Tinggalkan Balasan