Ijazah: Kertas dan Lisan (Nilai Intrinsik)

Ijazah diartikan sebagai suatu surat pernyataan yang dikeluarkan secara resmi dan sah yang menyatakan bahwa seorang peserta didik telah lulus pada satuan pendidikan atau suatu lembaga pendidikan. Iya, begitulah ijazah didefinisikan dan yang kita ketahui, ia berbentuk lembaran yang diikuti dengan berbagai keterangan, mulai dari angka-angka atau kata-kata untuk menjelaskan keilmuan diri seorang peserta didik.

 

Tentu ini akan sangat berbeda dengan model pendeskripsian ijazah dengan lisan. Misalnya, seorang guru berkata ”ajaztuka haza kama ajazani syaikhi (aku ijazahkan ini kepadamu sebagaimana guru ku mengijazahkan kepada ku”. Dalam ijazah lisan ini juga ada tingkatannya, ada untuk suatu disiplin ilmu, fatwa atau ijazah untuk mengajar.

 

Sekarang, mari kita kerucutkan perbincangan kita, ketika ijazah yang dimaksudkan di sini adalah ijazah untuk suatu tingkatan atau jenjang pendidikan dengan kejuruan (spesialis) yang diminati oleh seseorang (peserta didik), model ijazah (kertas dan lisan) manakah yang kiranya cukup baik? Maka, kita tidak sedang membicara jenjang pendidikan SD atau SMP di sini atau bahkan SMA karena pemilihan jurusan itu dilakukan pada tingkat SMA itu pun masih terlihat umum. Kita lebih berbicara pada tingkat ke-sarjana-an.

Sisi Baik – Buruk

 

Tentu, setiap sesuatu ada sisi baik (positif) dan buruk (negatif), sehingga jawaban untuk pertanyaan di atas pun tidak terlepas dari dua sisi nilai tersebut kiranya. Maka, dalam pandangan saya, model pendeskripsian ijazah di atas kertas tersebut kiranya dilakukan untuk kemashlahatan. Karena jika dilakukan secara lisan maka keotentikannya akan dipertanyakan pada zaman sekarang.

 

Pertanyaan ke-otentik-an pun sebenarnya juga dapat dipasang pada ijazah lisan, karena saksi juga dibutuhkan saat ijab (pengucapan lisan) ijazah dilakukan. Belum lagi, jika kita memasang indicator (pertanyaan) kelayakan atau kepantasan suatu ijazah diberikan, maka perbincangan kita akan sangat luas, karena itu berkaitan dengan alat pengukuran yang akan digunakan.

 

Penulis melihat atau kecenderungan penulis melihat bahwa ijazah kertas adalah suatu usaha untuk mempermudah dan mengikuti perkembangan zaman. Namun, seharusnya tetap menjujung tinggi nilai-nilai yang terkandung dalam model ijazah lisan. Sisi lain, yang harus diperkuat adalah nilai intrinsik dari suatu ijazah, dan  nilai tersebut adalah proses dari pendidikan yang dilalui.

 

Penyakit Diploma

 

Maka, tidak mengherankan ketika para cendikiawan mengistilahkannya dengan Penyakit Diplome. Iya, bagi mereka yang punya keinginan tergesa-gesa memburu secarik kertas ijazah, untuk mmnuhi harapan besar dan kebanggaan status sosial. Sehingga, lupa akan nilai intrinsik dari proses pendidikan yang dilaluinya. Kemungkinan besar, mereka sedang mengalami “Penyakit Diploma”.

 

Lalu, jika ada pertanyaa, Apakah seseorang yang memiliki masa study panjang menandakan bahwa dirinya tidak lupa akan nilai intrinsik dari proses pendidikan yang ia lalui? Ini adalah logika terbalik. Jadi, panjang dan pendeknya proses tidak terlalu penting ketika terpogram dengan baik suatu program pendidikan (kurikulum) tersebut, yang menjadi poin penting adalah proses pendidikan tersebut, apakah proses pendidikan cukup baik menghantar para sarjana dengan spesialis keilmuannya baik dari sisi pengetahuan mereka, sikap dan keterampilan mereka. Karena kertas dan lisan tidak akan cukup mewakili nilai intrinstik tersebut. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan