abi Muhammad Saw melakukan aktivitas olahraga yang ada pada zamannya, seperti memanah. Baginda juga seseorang penunggang kuda. Bahkan, Nabi pun berlomba lari dengan istrinya ‘Aisyah. Perkara penting yang harus dipahami dari sunnah ini yaitu manusia harus tahu bahwa olahraga juga merupakan sunnah yang diajarkan oleh Nabi Saw. Umat Islam harus memiliki niat ibadah tatkala olahraga, dan mengikuti sunnah Rasulullah Saw. Jika kita tahu bahwa olahraga adalah sunnah, maka apabila seseorang hendak berolahraga, maka berniatlah mengamalkan sunnah dan bermaksud menguatkan badan untuk lebih taat kepada Allah Swt. Siapa yang tahu jika sesuatu saat nanti, kita atau anak keturunan kita dipanggil untuk jihad yang sebenar-benarnya jihad, maka kita sudah siap fisik, mental dan iman sebab kita berolahraga karena iman dan ibadah. Umar ibn Khattab ra, berkata: “Ajarilah anak-anak kalian berenang, memanah dan menunggang kuda”.Wallahu a’lam...

Harta dalam Perspektif Orang Islam

Manusia dituntut untuk bekerja memenuhi kebutuhan pribadi maupun keluarganya. Namun, manusia yang beragama Islam (Muslim), mereka tidak bekerja hanya untuk sebatas kehidupannya di dunia ini saja. Umat Islam memiliki pandangan yang khas terhadap harta dan usahanya, artinya memiliki pandangan yang khas terhadap dunia ini. Orang Islam bekerja dan mencari rezeki untuk ibadah, untuk menafkahi keluarga dan membantu sesame serta tidak lupa bersyukur agar nikmat harta dan rezeki itu tidak hanya sebatas di dunia ini saja, melainkan memiliki kaitan dengan kehidupan akhirat.

Nikmat dunia berupa harta yang diberikan oleh Allah akan terhenti hanya sampai di dunia ini saja, namun harta akan menjadi penolong di akhirat jika memiliki kaitan atau hubungan dengan akhirat, dan bagaimana caranya untuk menghubungkannya? Yaitu dengan bersyukur!

Orang Islam apabila mendapatkan nikmat berupa harta, tanah, kebun dan sebagainya, maka selalu mengucapkan “Alhamdulillah”. Orang yang dekat dengan Allah selalu bersyukur dengan mengucapkan “Alahamdulillah” dan orang Islam yang tahu akan hakikat kalimat ‘tahmid’ : Alhamdulillah, mereka yang sadar akan merasa rendah, hina dan tak ada apa-apanya di hadapan Allah Swt, kenapa demikian? Karena kalimat Alhamdulillah itu juga merupakan nikmat yang diberikan oleh Allah Swt bahkan lebih besar dari nikmat harta atau usaha (bisnis) yang kita miliki. Saudara, harta yang kita miliki, nikmat Allah; tanah atau berupa kebun/tambak, yang kita miliki adalah nikmat Allah.

Setelah kita memiliki semuanya kita mengucapkan Alhamdulillah, tanpa kita sadar kalimat yang kita gunakan untuk berterima kasih itu juga merupakan nikmat. Jika demikian, siapa kita di hadapan Allah Swt? Ya Allah jadikanlah kami hamba-hamba mu yang bersyukur.

Sebelum kita bekerja, berdagang, berbisini dan berkebun atau bertambak, jauh sebelum kita dilahirkan, sahabat Nabi telah melakukannya. Sebelum kita menjadi orang kaya di akhir zaman ini, jauh sebelum kita dilahirkan, sahabat Nabi jauh lebih kaya daripada kita. Ustman bin Affan, Abdurrahman bin ‘Aufin, mereka kaya bukan untuk pribadi mereka, bukan untuk keluarga mereka, dan bukan untuk aksesoris pribadi mereka. Mereka kaya untuk Islam dan ummat, mereka kaya untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi di surganya Allah Swt, karena pandangan hidupnya bukan hanya untuk dunia semata, namun juga untuk akhirat kelak.

Namun sangat disayangkan, pandangan seperti Utsman bin Affan dan sahabat yang lain sudah lama hilang, seakan tinggal kenangan. Ummat Islam belakangan ini memang banyak bekerja, banyak yang berbisini, banyak yang membuka usaha, dan banyak yang kaya, namun cinta dunia dan benci akan kematian. Sebagaimana dalam HR. Abu Daud:

“Hampir saja seluruh umat manusia siap memangsa kalian seperti orang-orng rakus yang mengerubuti makanan dalm wadahnya. Salah seorang shabat ada yang bertanya: “Apakah waktu itu jumlah kami sedikit ya Rasulullah?? Rasul menjawab: “Tidak”, bahkan jumlah kalian saat itu sangtlah bnyak, tetpi kalian sperti buih di lautan. Dan kalian akan digrogoti oleh penyakit wahn. Dan shabat bertnya: Apakah wahn itu ya Rasulullah?, Rasul menjawab: Wahn itu “Cintan dunia dan takut mati”. Dan dalam riwayat lain: “Dan diangkat rasa takut dari dada musuh-musuh kalian”.

Di akhir zaman harta memiliki posisi yang paling istimewa di hati umat Islam, sehingga orang Islam mudah terombang-ambing. Iya, Islam tidak melarang umatnya mencari hatra. Silahkan mencari harta tetapi jangan lupa ibadah; silahkan mencari harta, ketika kaya jangn lupa orang misknni, silahkan mencari harta, tapi kaya untuk Islam. Semoga dalam waktu dekat ini, lahir Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin ‘Auf akhir zaman yang mana kekayaan mereka bukan untuk kesenangan pribadi namun untuk Islam dan ummat.

Mari kita perhatikan firman Allah dalam QS. At-Taubah: 41:

“Berangkatlah kamu baik dalam Keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihad-lah kamu dngan harta dan drimu di jalan Allah Swt. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”.

Jelas sekali bahwa Allah Swt menyuruh kita untuk berjihad dengan harta-harta yang kita miliki. Oleh karena demikian, mari kita bangkitkan ekonomi kita, ekonomi ummat Islam ini, dan mari menjadi orang kaya yang cinta akhirat. Wallahu ‘alam…

Tinggalkan Balasan