Dayah: Membentuk Karakter Anak

Sejenak kita merujuk kepada tema di atas, secara kasat pikiran, terkadang ada yang kontra terhadap dayah yang merupakan basis dalam membentuk karakter seseorang. Namun, dibalik kasat pikiran, apabila kita melihat secara realitas yang ada dengan mata telanjang dan sekejap kita merenung akan keberadaan dayah, maka sebagaian kita akan menyetujui bahwa dayah dan sistem di dalamnya sangat berkompeten dalam membentuk karakter seseorang.

 

Merujuk kepada istilah dayah, ini meruapakan istilah dalam masyarakat Aceh, sama halnya dengan pengertian pondok atau pasantren dalam masyarakat Jawa, atau beberapa tempat lainnya dalam masyarakat Negara Indonesia ini. Menurut ejaan, dasar kata dayah berasal dari kata Zawiyah (bahasa Arab), maksudnya suatu tempat dari bagian gedung atau rumah yang disediakan untuk beribadah. Kemudian sesuai dengan lidah (lisan) orang Aceh kata zawiyah berubah menjadi dayah/deyah.

 

Masyarakat aceh, sejak masa kanak-kanak telah dikenalkan dengan pendidikan Islam. Dimulai dengan belajar pada orang tuanya atau pun pada seorang teungku (guru) yang khusus mengajar anak-anak dalam suatu gampong. Selepas maghrib atau pagi hari, baik oleh seorang teungku pria atau wanita. Pada pendidikan tingkat dasar ini, khususnya untuk anak-anak pria dilaksanakan di meunasah (mushalla), sebagai suatu pendidikan yang dianggap formal. Selanjutnya pada tingkatan pendidikan menengah disebut rangkang. Rangkang ini dibangun oleh masyarak gampong (desa) dan dikeloka oleh seorang tengku yang sudah memilki kematangan ilmunya. Adapun lembaga yang lebih tinggi disebut dengan dayah. Dayah dikelola atau dibangun oleh teungku chiek dan disebut dengan dayah teungku chiek. (Rusdi Sufi, 2000:1)

 

Dayah (pasantren), merupakan suatu usaha sadar yang dilakukan oleh seorang atau masyarakat untuk membentuk manusia yang berkarakter, berarti peran dayah dalam hal ini turut mewujudkan mimpi visi dari pendidikan nasional, sudah barang tentu dayah patut diapresiasikan.

 

Lembaran sejarah tentang dayah

Apabila kita mencoba membuka lembaran sejarah dayah di masa lampau, maka akan tergambar kisah-kisah ulama terdahulu dalam mengayomi masyarakat Aceh untuk menegakkan syai’at Islam di permukaan bumi ini. Aceh memliki tiga peranan penting, baik dari segi adat, agama, dan pendidikan. Dari segi adat, maka secara spontan kita teringat dengan kalimat “adat ngon hukum hana soe peu cree, lagee zat ngoen sifeut” (adat dengan hukum syari’at tidak bisa dipisahkan, sama dengan unsur dan sifatnya). Selanjutnya, bila kita berbicara masalah agama, maka akan terbenak dengan kalimat Aceh Serambi Mekah (Aceh: Seuramoe Meukah).

 

Terkait peranan dalam pendidikan, maka mau tidak mau kita harus mengacukan jempol kepada dayah. Mungkin telah kita ketahui bersama tentang peran dayah pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia (1945-1949), dimana dayah telah melahirkan tokoh-tokoh pejuang yang berpengaruh dan berperan dalam masa perang melawan kolonial Belanda yang saat itu berpesat di Banda Aceh. Seperti Teungku Haji Hasan Krueng Kale, Tengku M. Daud Beureueh, Teungku H. Djafar Sidik Lamjabat, dan Teungku H. Ahmad Hasballah Indrapoeri, dengan mengeluarkan maklumat bahwa perang melawan penjajahan adalah perang fi sabilillah.

 

Dayah di masa silam telah banyak melahirkan ulama-ulama yang memiliki kharismatik dan karakteristik yang menjadikan dirinya teladan bagi murid-muridnya ke depan kelak. Dayah yang didirikan oleh seorang Teungku agar melahirkan manusia yang menguasai ilmu agama, memahami, dan mengamalkannya, mampu menghidupkan agama Allah secara kaffah, memiliki jiwa kritis, kuat mental dan  fisik, istiqamah, sederhana, mandriri, tanggung jawab, dan saling kasih menyayangi sesama manusia. Wallahu a’lam
Postingan ini akan @rangkang-sekolah lanjutkan di episode lanjutan…

Tinggalkan Balasan