Antara Siang dan Malam

Kedatanganku laksana seorang bidadari yang mampu mengundang seluruh pelukis dunia yang namanya tersohor di mana-mana. Setiap mata yang  memandangku akan terpesona, karena aku mengubah warna lagit dengan merah jingga. Aku adalah sebuah pembatas antara siang dan malam sehingga keduanya tidak akan pernah berjumpa. Aku member tanda pada sangmentari untuk segera menenggelamkan diri. Akulah sang penyemput malam dimana yang ada hanya kegelapan dan kesunyian. Aku adalah titah Tuhan dimana tidak ada satupun yang dapat menolak kehadiranku bahkan untuk diriku sendiri.

Aku mendakan akhir dari sebuah cerita dan menyisakan sunyi, tidak ada cahaya yang menyirami bumi kecuali secuit kedip lampu kecil yang cahayanya mungkin tidak berarti. Gelap menyelimuti tubuh bumi, diiringi hawa dingin dan rasa sepi yang menemani. Bagi bathimu aku memang menakutkan dan meharukan karena semua cerita di siangmu harus tersimpan dan menjadi pengantar tidur untuk mengisi mimpi, hingga sang mentari mengusirku pergi dan di sanalah cerita baru tentang  hidupmu akan diawali.

 

Engkau terlalu terlena dengan birunya langit diwaktu hari, sehingga dirimu menjadi kedatanganku sebagai penanda. Disaat sang langit selalu menundukkanmu, menemani dirimu kemanapun kamu pergi, menerangimu dengan sinar mentari dan menenangkan hati serta keindahnnya yangs selalu dapat engkau nikamti. Engkau terlena dan mengira itu semua akan abadi. Membuat dirimu menjadi tidak peduli tentang semua yang menggodamu, mungkin engkau terlalu dangkal untuk mengerti sehingga engkau lupa tentang diriku karena sang langit sendiri yang memintaku untuk menyemputnya dan meninggalkan engkau pergi. Saat itulah dan mentari memilih pergi seperti langit mimilih bulan dan cahaya bintang.

 

Sekali lagi, aku adalah akhir dari sebuah hari, menjadikan semua hal yang telah terlewati menjadi tertata serta tersusun rapi dan akan menjadi kenangan dikemudian hari. Aku hanya sunyi dan menyembunyikan cerita ku sendiri baik itu kebahagian ataupun kepiluan. Dengankulah engkau dapat belajar tentang bangaimana menghargai sara sepi dan sunyi. Disaat dirimu tidak bersama orang yang engkau cintai, disaat orang yang ingi engkau pilih tetapi ia tidak memilihmu. Terkadang Tuhan membuat semua hal yang kita saying memilih pergi, ini bukan berarti Tuhan tidak peduli. Tuhan tidak mengambil apapu dari kehidupan kita kecuali menggantikannya dengan yang lebih baik sesuai dengan kadar dan kebutuhan kita sebagai hamba, karena Tuhan lebih peduli kepada hamba melebihi rasa peduli serang ibu kepada sang buah hati. Begitu juga rasa sepi dan sunyi yang kubawa saat ini, untuk memberimu tanda agar kamu dapat menjenguk kedalaman dirimu sendiri sehingga engkau menemukan sebuah arti akan hadirmu di muka bumi. Karena di dalam  sepi dan sunyilah dirimu dapat menemukan diri dan bertanya sesungguhnya untuk apa aku ini.

 

Ketika langit melepaskan mentari pergi disaat yang sama sang langit dengan segala pasrahanan menunggu sang rembulan dan cahaya kedipan bintang. Dan ini akan terus terulang tiada yang dapat menolaknya hingga Tuhan menentukan batasnya. Bersama rasa sepi dan sunyi yang kuhadirkan disana terdapat sebuah kata yaitu kerelaan. Aku menyadarkanmu bahwa apapun yang ada bersamamu ia tidak selamanya bisa bersama ada kalanya ia harus pergi. Semuaada waktunya, ketika waktunya telah tiba engkau tidak diminta untuk siap, engkau tidak diminta untuk kuat dan engkau juga tidak beri kesempatan untuk memilih, menunda ataupun mempercepat. Maka, di saat itu engkau hanya diminta untuk kerelaan dan kepasrahan akan waktu dan ketentuan.

 

Sebelum ku akhiri sedikit aku ingin berbangga diri. Langkahku membuat cahaya mulai meredup dan bunga serta dedaunanpun ikut menguncup. Aku menyampikan membawa sebuah pesan kepada semua yang hidup disemesta untuk berjudud. Aku begitu bersahaja, tenang dan angung, ketika aku hadir seiri alam jatuh dalam pangkuan diam, hening tanpa bisikan suara ketika angin hanya terasa lewat celah-celah jendela. Aku selalu menjadi penggoda para pujangga dan menarik jiwa para penulis serta menggerakkan tangan untuk menarikan kuas para pelukis.

Mungkin aku adalah senyuman Tuhan di penghujung hari, di sini kukatakan kepadamu aku bukanlah gambaran senyumanan Tuhan, aku hanya sebuah tanda yang menyadarkan dirimu bahwa kamu telah kalah dalam bertarung dengan sang waktu untuk mengisi hari. Aku akan menjadi debar saat dirimu gemetar, aku menjadi sunyi saa dirimu menyepi dan membawamu ke awan lalu menghadirkan sebuah perasaan dalam dirimu perasaan yang membuat dirimu rindu pulang.

 

Baiklah, sebelum sang fajar mengusirku pergi dengan cahaya mentari, ijinkan aku pamit dan menutup diri dengan sebaris firman suci, “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyuru Tuhannya di pagi hari dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapakan perhiasan dunia ini; dan jangalah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaanya itu melewati batas”. Bersama dengan ini aku akhiri dan berpamit diri.

Tinggalkan Balasan