Aku Seekor Nyamuk

Tubuhku terdiri dari tiga bagian kepala, dada dan perut. Tubuhku lebih kecil dibandingkan tubuh teman wanitaku. Memang teman wanitaku dalam hal ini, ia lebih beruntung dari padaku usiaku, hanya sepuluh hari tapi teman wanitaku mencapai empat puluh dua sampai lima puluh enam hari. Aku senang warna gelap, aku menyukai tubuh manusia yang berkeringat apalagi jika mereka dalam keadaan mabuk. Kaki yang bau adalah hal yang paling kusukai dan juga taman yang berantakan. Tempat yang terlindung dari sinar matahari adalah tamanku, permukaan yang lembab, berisi air tawar jernih dan tenang. Aku juga menyukai wanita hamil. Makananku adalah sari buah dan dedaunan, namun tidak dengan teman wanitaku, ia menyukai darah hewan. Dalam dua hari sekali ia selalu mencari dan menghisap darah dan golongan darah O  yang paling ia sukai,  teman wanitaku membutuhkan darah untuk memproduksi telurnya.

 

Saat mangsaku tertidur atau berada dalam keadaan lengah aku menyerangnya, hinggap dikulitnya lalu menghisap darahnya. Aku merasa senang dapat melakukannya karena banyak para temanku yang gagal melakukannya dan banyak diantara mereka yang menemui ajal.

 

Aku sadar dengan segala yang kusukai semakin membuatmu memusuhiku, aku bisa terima itu. Aku mengganggu ketenangan kalian,  membawa penyakit bagi kalian, membuat tubuh lebam dan merah serta gatal dikulit. Aku juga menyiksa para ibu karena mereka harus bergadang setiap malam dan  membuat mereka harus bersusah payah menutup pintuk dan jendela serapat mungkin serta memasang kelembu diatas tempat tidur agar anak-anak mereka tidak terjamah olehku.

 

Kalian membenciku, aku tahu itu. Karena semua alasan itu jugalah yang membuat kalian selalu mencari cara untuk membunuhku. Dan permusuhan kitapun dimulai, itu akan terus berlanjut sampai kapanpun. Kecuali bagi orang-orang yang mengerti. Bukan aku saja, kalian sendiri juga tidak penah punya keinginan untuk menghentikan permusuhan ini, tentu aku dapat membuktikannya. Lihat saja ketika kalian membicarakan diriku tidak pernah melihat diriku dari sisi positif, tapi kalian selalu melihatku dari sudat pandang yang buruk. Di matamu aku ini tiada baiknya, setidaknya begitulah yang kurasa selama ini.

 

Cerita ini akan dilanjutkan dalam Edisi ke-dua dengan kategori Cerita Pendek

 

By: rangkangsekolah.com

Tinggalkan Balasan