Aku Seekor Nyamuk – Edisi II

Dear Sahabat Steemians,

Semoga selalu dalam keadaan sehat!!!

Ini postingan lanjutan dari postingan sebelumnya….Aku Seekor Nyamuk

 

Aku pernah mendengar seorang pengajar membicarakan tentang diriku di depan para siswanya, pengajar itu mengatakan “Nyamuk adalah mahluk terjelek di dunia” kata sang mengajar itu kepada muritnya. ”Aku menggambarkan seekor nyamuk di atas kerta yang usang dengan mata yang besar dan melotot, gigi yang besar dan tajam dan dari dalam mulutnya terdapat sisa sisa darah dari korbannya”. Lanjut sang pengajar itu sambil menunjukan gambar hasih karyanya. Aku pikir gambar itu sangat konyol, karena aku yakin yang menggambarku juga tidak tahu, apakan itu aku yang sebenarnya atau itu teman wanitaku yang ada didalam gambarnya. Dia sama sekali tidak mengenalku.

Sang pengajar itu melangkah lebih jauh lagi dengan mengatakan, “Mulai dari manusia vampir, kepinding, kutu busuk, kelelawar dan nyamuk mereka adalah gerombolan penghisap darah. Ketika malam tiba coba kalian lihat, nyamuk berkumpul dan merencanakan rencana busuk untuk menghisap darah manusia. Sehingga banyak anak-anak yang menderita penyakit dan betapa kasihan para orang mereka harus mengeluarkan banyak dana untuk biaya pengobatan. Nyamuk merupakan mahluk kerdil yang hanya bisa membawa masalah dan tak lebih dari penganggu yang meninggalkan banyak penderitaan untuk para korbannya. Untuk apa Tuhan menciptakan nyamuk yang kecil itu tidak ada gunanya selain hanya membawa petaka. Jadi ketika putra tertuaku mendapat tugas dari perusahaan ia bekerja untuk membasmi semua jenis nyamuk berserta telurnya yang ada disemua tempat, saya sangat senang”. Lanjut sang pengajar dengan semangat yang tinggi terus mengunjingku dengan air liurnya yang terbang kesegala arah.

 

Aku benci orang ini, menurutku ia tidak pantas menjadi seorang pendidik. Ketika dia berbicara di depan kelasnya aku melihatnya seperti pemabuk, karena hanya pemabuk saja yang tidak mengerti dari semua yang diucapnya. Disaat ia mengatakan tentang semua kejelekanku tanpa ia sadari disaat bersamaan putra tertuanya mendapat pekerjaan dan penghasilan karena diriku. Bukankah karena diriku puluhan ribu orang mendapatkan pekerjaan dan upah. Dengan itu mereka dapat menghidupkan keluarga, pengawai kesehatan punya peluang  kerja karena banyak pasien harus dirawat karena gigitanku, dan para orang tua dengan sekuat tenang melindungi anak-anak mereka supaya terlindungi dari jangkauanku atau para ibu harus menderita karena berjaga dan tetap waspada agar bayi mereka tidak kuhinggapi, bukankan itu semua dapat mereka tunjukan kepada anaknya nanti sebagai bukti cinta kasih mereka. Tentu jika dinilai dari  semua ini, maka dalam hal ini aku selayaknya diberi ucapan terima kasih.

 

Aku akan membela diriku dengan caraku, dan kuharap cara yang kupilih ini tidak menyakitimu apalagi sampai mengurangi darahmu dan meninggalkan penyakit, lebam merah dan gatal di kulitmu. Cara ini adalah yang terbaik yang diajarkan oleh Tuhanku kepadaku. Untuk menyakinkanmu aku akan memulainya dengan Kitab Tuhanku yang suci. Disini aku tidak bermaksud menuduhmu tidak pernah membaca Kitab Tuhanmu, tetapi aku hanya sekedar mengingatkan kembali pada kalian yang mungkit lupa.

 

Dalam surat Al-Baqarah ayat ke dua puluh enam di sana di dalam Tuhan menyebutkan tentang diriku dan menjadikan aku sebagai perumpamaan dan simbol untuk menunjukan kekuasaan Nya kepada para orang kafir. Dengan perumpamaan itu Tuhan memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki dan sekaligus menyesatkan orang yang ingin disesatkan. Sejarah turunya ayat ini tatkala Allah memberikan dua pemisah terdahulu, yaitu pemisahan antara api dan air. Ketika itu para orang munafik mengatakan “Allah adalah Maha Tinggi dan Maha Mulia ketimbang sekedar memberikan pemisahan seperti ini”. Lalu Allah menuurunkan ayat ini. Dari pengetahuan tentang arti ayat ini, ampuni aku yang Allah jika aku salah dalam memahami firman suciMu. Dalam ayat ini Allah membuat perumpaan atau perbandingan walau hanya dengan serangga kecil seperti diriku, Nyamuk. Dalam konteks ini yang ebih dari itu, baik dalam bentuk, kedudukan atau sifatnya yang sering diartikan nyamuk, mahluk yang mesti mendapatkan perhatian untuk dipelajari.  Apakah hewan kecil tersebut dapat disimbolkan sebagai sumber malapetkan atau sebagai sumber mata pencaharian seperti produser obat.

 

Sebagai seekor nyamuk aku sangat senang dan bangga pada ayat ini, siapapun pasti senang dan bangga jika dirinya disebuat didalam Al-Quran, dan itu tak terkecuali aku, Nyamuk. Aku merasa sangat istimewa kerena Tuhan menyebutkanku di sana dan aku punya alasan untuk berbangga akan semua itu.

Tinggalkan Balasan