Agama Sebagai Perekat Sosial

 

Setiap agama yang diturunkan oleh Tuhan melalui para  Nabi dan Rasul-Nya merupakan sebuah alat dalam membentuk moral dan jalan untuk terciptanya  interaksi dan jalinan sosial. Suatu kelompok akan menjadi sangat kuat yang tak terkalahkan apabila mereka diikat oleh agama, begitu juga suatu masyarakat akan aman, damai, makmur dan adil apabila masyarakat tersebut memiliki agama walaupun masyarakat tersebut tidak memiliki undang-undang bila dibandingkan dengan suatu masyarakat yang memiliki undang-undang akan tetapi tidak beragama.

 

Agama mempersempit jarak antara si kaya dengan si miskin, antara si kuat dengan si lemah bahkan agama pula dapat menyatukan mereka dalam satu kesatuan yang kokoh dan utuh tanpa saling membenci dan mendengki. Agama menjadi benang pengikat bagi mereka dalam menjalin kehidupan dan menciptakan kehidupan yang lebih baik dan seimbang.

 

Si kaya akan memiliki tanggung jawab dalam bentuk moral terhadap orang yang miskin karena mereka menyadari didalam harta kekayaannya terdapat hak si miskin, sehingga mereka dapat memberikannya dalam bentuk zakat, sedekah dan infaq sebab hal itu hanya diajarkan dalam agama dengan demikian hubungan si kaya dengan si miskin akan semakin erat sebab dalam agama tidak terdapat hal yang membenarkan untuk memupuk harta. Si kuat dengan kekuatannya bisa menjadi payung bagi si lemah karena agama tidak mengajarkan menjadi manusia yang angkuh dan sombong dengan kekuatan dan kemampuan.

 

 

 

 

 

 

 

Agama juga menjadi alat untuk menjinakkan orang miskin agar tidak memberontak dan membangkang akan kerasnya kehidupan dan bisa menerika penderitaannya dengan lapang dada dengan janji kekayaan akan spiritual di akhirat, agama juga menjadi penyejuk bagi orang miskin agar tidak membenci orang kaya karena agama mengajarkan kehidupan didunia dengan penuh perbedaan. Agama juga menjadi air pelepas dahaga bagi orang dalam menghadapi dan menerima penderitaan serta pahitnya kehidupan akan janji kebahagiaan di akhirat. Manusia tidak akan mengambil milik orang lain, tidak akan menjual dirinya dan menggadai kehormatannya demi materi dan melakukan hal dan perbuatan yang menyimpang apabila manusia tersebut diikat oleh agama.

 

Hilangnya jalinan sosial kehidupan keluarga, masyarakat bangsa dan negara merupakan dapat dari  lemahnya pemahaman akan ilmu agama dan letak serta peran agama dalam kehidupan. Putusnya benang merah antara si kaya dan si miskin, si kuat dengan si lemah dimana  yang kaya tidak lagi menjadi tempat untuk si miskin dalam mencari bantuan begitu juga dengan yang kuat tidak lagi menjadi bisa menjadi pelindung bagi yang lemah sehingga yang kaya semakin kaya dan yang kuat semakin angkuh dengan kekuatannya namun yang miskin dan yang lemah semakin terpojok karena kemiskinan dan kelemahannya.

 

Hilangnya simpati, empati dan moral sosial karena ketidak mampuan memahami agan serta menempatkannya dalam kehidupan, sehingga agama tidak bisa menyatukan perpecahan dan perbedaan yang ada, sebenarnya bukan tidak bisa memahami agama akan tetapi agama dikesampingkan dalam aktifitas kehidupan artinya segala hal yang dilakukan oleh manusia dalam aktifitasnya tidak menjadikan agama sebagai tumpuan dasarnya sehingga segala aktifitas yang dilakukan tidak lagi mempertimbangkan kerugian orang lain dalam moral. Apabila seseorang dibuat rugi dalam bentuk material maka banyak orang akan menuntutnya namun apabila kerugian tersebut terjadi dalam bentuk moral diamlah mereka, sehingga moral menjadi lenyap.

Tinggalkan Balasan